
Banyuwangi – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti Dusun Tegalsari Lor, Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada malam Jum’at (04/12). Kediaman Bapak Wiranoto yang dikenal sebagai ‘Joglo Merah Putih Nuswantoro’, kembali menjadi saksi dari kegiatan rutin Sarasehan Malam Jum’at Legi.
Joglo ini didirikan dengan visi yang luhur: menjadi Pusat Edukasi Budaya dan Toleransi. Tempat ini secara khusus dirancang bukan hanya sebagai ruang meditasi dan rembukan spiritual (gesah bareng), tetapi juga sebagai sekolah informal yang mengajarkan nilai-nilai luhur budaya Jawa, sejarah perjuangan bangsa, serta menekankan pelajaran pentingnya menerima dan merayakan keberagaman.
Wiranoto, menegaskan bahwa aktivitas spiritual dan kebangsaan di joglonya tidak hanya terbatas pada Malam Jum’at Legi, melainkan berlangsung hampir setiap hari. Hal ini menunjukkan komitmen kuat beliau dalam menjaga dan mewariskan semangat persatuan dan toleransi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Joglo Merah Putih Nuswantoro telah menjadi mercusuar yang memancarkan cahaya kebhinekaan di tengah masyarakat Banyuwangi.
Wiranoto, S.H., M.H., M.Si. (Tuan Rumah & Penggagas). “Joglo Merah Putih Nuswantoro ini bukan sekadar bangunan kayu dan genting. Ini adalah monumen hidup persatuan, tempat kita menyatukan hati, pikiran, dan semangat. Di sini, kita belajar dari leluhur tentang sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan kehidupan) dan dari sejarah perjuangan tentang Bhinneka Tunggal Ika. Kita harus memastikan bahwa toleransi dan kebhinekaan adalah napas setiap langkah kita. Mari teruskan rembukan spiritual dan gesah bareng ini sebagai penguat jati diri bangsa.” Tegasnya.
“Malam Jum’at Legi yang disucikan ini, mari kita menundukkan ego, menyucikan niat, dan menyelaraskan getaran sukma dengan semesta. Semoga energi kebaikan dari lelaku kita malam ini memancar, menjaga desa kita, menjaga Banyuwangi, menjaga Nusantara. Kita adalah satu jiwa dalam balutan Merah Putih. Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan), Manunggaling Roso (bersatunya rasa), itulah tujuan sejati kita.” Ujarnya. (Bangun)
