Optimasi Kualitas Ekspor. Kelompok Nelayan Kedungasri Mulai Proses Penggemukan Kepiting Menuju Pasar Global

Banyuwangi – Kelompok Nelayan Budidaya di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, secara resmi memulai fase krusial dalam rantai produksi perikanan mereka, Kegiatan Pelepasan Kepiting Ekspor untuk Proses Penggemukan di Area Tambak SIL VOFISERY, Dusun Pondok Asem Desa Kedungasri Kecamatan Tegaldlimo. Sabtu, (22/11/2025), pukul 08.00 WIB.

Kegiatan ini menandai dimulainya tahap peningkatan nilai jual kepiting, di mana kepiting yang telah dibudidayakan akan melalui proses penggemukan intensif. Proses ini bertujuan untuk mencapai bobot dan kualitas premium yang dipersyaratkan pasar ekspor, di mana kepiting siap panen setelah mencapai bobot ideal sekitar 200–350 gram, yang dapat dicapai dalam kurun waktu 15 hari hingga 3 bulan, tergantung jenis dan kondisi budidaya.

Acara pelepasan dihadiri oleh berbagai unsur penting daerah dan institusi terkait, menunjukkan komitmen kolektif untuk mendukung perikanan budidaya yang berkelanjutan dan berorientasi ekspor.

Eko Iswanto, SE (Kasi PMK, mewakili Camat Tegaldlimo). “Tahap penggemukan ini sangat menentukan harga jual di pasar ekspor. Kami berharap Kelompok Nelayan dapat menerapkan SOP terbaik, didukung penuh oleh Pendamping Dinas Perikanan dan Desa. Keberhasilan program ini akan mengukuhkan Tegaldlimo sebagai sentra kepiting berkualitas ekspor, meningkatkan ekonomi warga secara signifikan.” Ujarnya.

Sunaryo, SH (Kepala Desa Kedungasri). “Peran BUMDes dan nelayan sangat vital di tahap ini. Kami tidak hanya melepas, tetapi juga mengawasi proses penggemukan untuk memastikan kepiting mencapai bobot dan kualitas terbaik. Ini adalah investasi jangka pendek yang hasilnya harus maksimal. Kami siap memfasilitasi kebutuhan nelayan, termasuk cara panen yang efisien, yaitu dengan mengeringkan kolam untuk penangkapan menggunakan jala atau seser.” Kata Kades Kedungasri Naryo.

Iptu Sadimun, SH (Kapolsek Tegaldlimo). “Keamanan aset perikanan, terutama kepiting yang bernilai tinggi, menjadi prioritas. Kami bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa akan terus berpatroli dan memberikan edukasi agar proses budidaya, dari penggemukan hingga panen, berjalan aman, tertib, dan bebas dari gangguan. Keberhasilan nelayan adalah keberhasilan kita bersama.” Ucapnya

Serma Nanang Sugianto (Bati Bhakti TNI, mewakili Danramil 0825/09 Tegaldlimo). “Proses penggemukan membutuhkan kedisiplinan dan ketekunan. Kami mengajak seluruh nelayan untuk menjaga kekompakan dan lingkungan tambak. Sinergi Tiga Pilar (TNI, Polri, Pemerintah) hadir untuk memastikan program ini berjalan lancar dan menjadi pilot proyek perikanan yang sukses di wilayah kami.” Ucap Serma Nanang

Pendamping Dinas Perikanan. “Fokus utama saat ini adalah manajemen pakan dan kualitas air selama periode penggemukan, yang berkisar 15 hari hingga 3 bulan. Kualitas kepiting yang kita hasilkan harus konsisten mencapai bobot 200 hingga 350 gram, karena ini adalah standar bobot ekspor. Kami akan intensif mendampingi nelayan agar target bobot terpenuhi tepat waktu dengan daging yang padat.”

Ketua KTH Kedungasri. “Kami telah menyiapkan tambak dengan standar yang lebih baik untuk fase penggemukan ini. Kami menyadari bahwa harga jual kepiting yang gemuk jauh lebih tinggi. Dengan bimbingan dari Dinas Perikanan, kami optimis panen raya berikutnya akan menghasilkan kepiting berkualitas ekspor yang membawa berkah bagi seluruh anggota kelompok.”

Bu Novi, Ka Balai Taman Nasional. “Kegiatan ini harus sejalan dengan prinsip konservasi. Area tambak yang berbatasan dengan kawasan harus dikelola secara lestari. Kami siap berkolaborasi untuk memastikan proses penggemukan ini tidak merusak ekosistem hutan bakau dan lingkungan pesisir, karena ekosistem yang sehat adalah kunci keberhasilan budidaya jangka panjang.” Selesai (Bangun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *